Tampilkan postingan dengan label TUGAS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TUGAS. Tampilkan semua postingan
Unknown

Filsafat Pendidikan
Filsafat pendidikan merupakan aktivitas berfikir tingkat tinggi (higher-order activity) dalam pencarian teori dan praktik pendidikan. Permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan bukan masalah yang berkaitan dengan ketidak jelasan konseptual, melainkan pada masalah-masalah nyata dalam praktik pendidikan terutama yang berkaitan dengan kurikulim dan implementasi kurikulum. Masalah pokok yang terpenting sebagai landasan berfikir secara filsafati pendidikan adalah  perumusan asumsi tentang hasil akhir suatu pendidikan yakni tujuan pendidikan (aim). Hal ini adalah suatu komitmen yang berkaitan  dengan nilai  dan persyaratan logis untuk mengarahkan semua pemikiran pada hasil terbaik yang dapat dicapai.
Kesepakatan nasional menetapkan Tujuan Pendidikan Nasional (Tupenas) adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif dan sebagainya, sehingga dapat digunakan sebagai pedoman perumusan tujuan Institusional dari lembaga-lembaga pendidikan. Tujuan Institusional yang jelas akan menentukan kejelasan perumusan Tujuan Instruksional.
Dalam Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional itu (UU-RI No.20 Tahun 2003, pasal 3) berdasarkan definisi-definisi menurut psikologi umum, psikologi pendidikan, dan psikologi sosial. Dalam membahas pencapaian tujuan pendidikan, secara filosofis perlu pula dipertanyakan: materi apa yang dikerjakan, bagaimana mengajarkannya, dan bagaimana cara menentukan bahwa tujuan pendidikan telah tercapai?
Hal ini berkaitan dengan rasional R.W Tyler tentang kurikulum. Tujuan Istitusional, T.W Moore mengemukakan: “ to talk of purposes is always to refer to some external end to which the activity is directed” (Moore, 1982: 28). Sasaran eksternal (external end) yang dimaksudkan adalah, bidang pekerjaan apa atau profesi apa yang digeluti oleh lulusan. Hal itu berkaitan pula bahwa, penyelenggaraan pendidikan perlu pula pemikiran koherasi antara dunia pendidikan dengan dunia kerja.
            Dalam hubungan eksistensi pendidikan perlu disesuaikan dengan kondisi nyata kehidupan dan ekonomi masyarakat pada umumnya. Pemikiran filsafati (pendidikan) tidak semata-mata dikaitkan dengan aspek-aspek moral saja, tetapi perlu ditekankan pada aspek kehidupan nyata. John Vaizey (1962: 89) mengemukakan: “Education has become a major source of skills and trained talent. Ideed, from one point of view, this is education’s critical economic role. “Pandangan yang dikemukakan pada tahun 1962 ini dikemukakan setelah Amerika Serikat menyadari “kekalahannya” dalam  menjelajahi ruang angkasa Uni Sovyet.
            Tinjauan berdasarkan perkembangan ekonomi suatu negara, diperlukan suatu spectrum keterampilan karyawan dengan selang dari karyawan dengan keterampilan manual sampai tingkat saintis terlatih dengan kesanggupan analitik dan pemecahan masalah berdasarkan pemikiran yang kritis. Berdasarkan kajian kebijakan kependidikan dari Negara-negara maju perekonomian suatu Negara, makin tinggi kebutuhan atas tenaga kerja terlatih dengan keterampilan tingkat tinggi dan kompleks. Bagi Negara-negara sedang berkembang dengan tingkat pendidikan yang masih dibawah rata-rata masalah ini memerlukan strategi perencanaan sistem pendidikan dan kurikulum yang dipikirkan secara mendasar sehingga tidak mengabaikan hasil  yang telah dicapai berdasarkan kebijakan sebelumnya.
            Tinjauan berdasarkan aspek prekonomian tidak semerta-merta memberikan kebebasan  kepada lembaga pendidikan (terutama yang diselenggarakan oleh pemerintah) untuk melupakan aspek social pendidikan seperti tertuang dalam Undang-Undang Dasar RI 1945 pasal 31 dan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003 psal 4, 5, dan khususnya pasal 6 tentang wajib belajar hendaknya dilaksanakan secara tuntas tanpa adanya “putus-sekolah” atau drop-out.
Label: 0 komentar | | edit post
Unknown


Manusia secara prinsipiil memiliki ciri khas  berbeda dengan hewan. Ciri khas manusia  membedakannya dari hewan terbentuk dari kumpulan terpadu dari apa yang di sebut hakikat manusia. Disebut sifat hakikat manusia karena secara hakiki sifat tersebut hanya dimiliki oleh manusia dan tidak terdapat pada hewan. Sifat hakikat manusia di artikan sebagai ciri-ciri karakteristik, yang secara prinsipal atau bukan hanya gradual membedakan manusia dengan hewan. Meskipun antara manusia dan hewan mempunyai banyak kemiripan terutama jika dilihat dari segi biologisnya. Secara biologis hewan dan manusia memiliki kemiripan sepertihalnya manusia dengan primata atau kera masing-masing mempunyai tulang belakang yang sama, berjalan tegak dengan menggunakan kedua kakinya, melahirkan dan menyusui anaknya, pemakan segala, dan adanya persamaan metabolisme dengan manusia.
            Dan secara prinsipiil manusia dan hewan mempunyai beberapa perbedaan. Berikut ini beberapa perbeadaan wujud sifat manusia yang tidak dimiliki oleh hewan yang dikemukakan oleh paham eksistensialisme yaitu : kemampuan menyadari diri, kemampuan bereksistensi, pemilikan kata hati, moral, kemampuan untuk bertanggung jawab, rasa kebebasan atau kemerdekaan, kesediaan melaksananakan kewajiban dan menyadari hak, kemampuan menyadari kebahagiaan. 
Berkat adanya kemampuan menyadari diri yang dimiliki oleh manusia, maka manusia menyadari bahwa dirinya ( akunya ) memiliki ciri khas atau karakteristik diri. Hal ini menyebabkan manusia dapat membedakan dirinya dengan aku-aku yang lain ( ia, mereka ) dan dengan non-aku ( lingkungan fisik ) disekitarnya, tidak hanya membedakan, manusia juga dapat membuat jarak dengan lingkunganya. Baik yang berupa pribadi maupun non pribadi atau benda. Kemampuan membuat jarak dengan lingkunganya berarah ganda yaitu arah keluar dan arah kedalam. dengan arah keluar aku memandang dan menjadikan objek dan memanipulasi kedalam lingkunagn untuk memenuhi kebutuhanya, sedangkan arah kedalam aku memberi status kepada lingkungan (dalam hal ini kamu, dia, mereka) sebagai subjek yang berhadapan dengan aku sebagai objek yang isinya yaitu pengabdian, pengorbanan, tenggang rasa dan sebagainya. Yang lebih istimewa ialah bahwa manusia dikaruniai kemampuan untuk membuat jarak diri dengan akunya sendiri.
           

Sifat hakikat yang selanjutnya yaitu manusia memiliki kemampuan untuk bereksistensi. Kemampuan bereksistensi adalah kemampuan menempatkan diri ( bertahan hidup ). Manusia memenuhi kebutuhan untuk terus hidup dengan cara mempelajari alam lingkungan, untuk mempelajari alam lingkungan perlu adanya pendidikan.
            Manusia menempati posisi konsumen tingkat satu dalam lingkungan. hal ini yang menimbulkan rasa kebebasan dalam diri manusia. Untuk mengimbangi rasa kebebasan, manusia punya kata hati, moral, dan rasa tanggung jawab, rasa kebebasan cenderung membuat manusia melakukan sesuka hati tanpa memikirkan dampaknya. Kata hati berperan sebagai pedoman, moral melakukan dan tanggung jawab merupakan kesediaan menerima konsekuensi dari perbuatan untuk meminimalkan dampak, manusia perlu pendidikan.
            Kewajiban dan hak adalah 2 hal yang saling berkaitan dan tidak dapat berdiri sendiri. Tidak ada hak tanpa kewajiban kita memperoleh hak setelah melakukan kewajiban. Realisasi hak dan kewajiban disesuaikan dengan situasi dan kondisi ( relatif ), sebab tidak ada kewajiban untuk melakukan hal mustahil, hal ini memperjelas bahwa wajib bukanlah “ikatan“ melainkan sebuah tuntunan kata hati yang mulia, seorang guru melaksanankan kewajiban sebaik-baiknya sehingga guru ( tanpa pamrih ) perlu adanya kemampuan menghayati kewajiban pada level ini maka menumbuh kembangkan rasa wajib sehingga dihayati sebagai suatu nilai mulia dapat ditempuh melalui pendidikan disiplin.
            Akan timbul rasa bahagia yang luar biasa bila seorang guru dapat menimbulkan potensi peserta didik sehingga peserta didik sukses. Tapi sebaliknya, akan muncul rasa bersalah bila seorang guru gagal dalam mendidik peserta didik, untuk mencapai kesuksesan tentunya tidak mudah, ada proses untuk itu. Dan kadang proses tersebut  tidak didominasi oleh kebahagiaan dan masa-masa pahit atau penderitaan. Seorang guru yang benar-benar guru akan dengan sabar  dan penuh dengan rasa tanggung jawab dalam melewati proses tersebut. Dengan cara usaha keras ( berdoa, perbuatan ) di dasarkan pada norma-norma. Seberapa keras usaha akan mempengaruhi hasil akhir, kebahagiaan hanya dapat diraih oleh mereka yang mampu bersyukur. Untuk itu kemampuan menghayati sangat diperlukan dan untuk menumbuh kembangkan kemampuan menghayati perlu adanya pendidikan.


okkkkk demikian pentingnya pendidikan bagi sifat hakikat manusia dan pengembangannya, semoga bermanfaat........!!
Label: 0 komentar | | edit post